BKD Wlahar Wetan : Lembaga Keuangan Mikro Bangkitkan Kegiatan Ekonomi Masyarakat Desa

Desa kaya sumber daya alam, tetapi seringkali didapati kesejahteraan tidak mengikutinya. Terobosan yang mampu bangkitkan kegiatan ekonomi masyarakat perdesaan amat diperlukan.  Desa Wlahar Wetan memiliki pengalaman itu. Lembaga keuangan mikro Badan Kredit Desa (BKD) dibentuk sebagai pilihan tindakan. 

Lembaga keuangan desa adalah sebuah usaha desa dalam pengembangan perekonomian warga masyarakat. Desa yang memiliki lembaga keuangan yang baik akan mampu mendukung usaha desa meningkatkan potensinya. Lembaga Keuangan Desa itu penting terutama untuk pengembangan Desa ke arah kemandirian.

Seperti diketahui, dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, setiap desa akan memperoleh Dana Desa yang besar.  Adanya sumber daya anggaran ini, bisa mendorong Desa untuk memiliki Lembaga Keuangan Mikro (LKM), dan sekaligus meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki akses terhadap sektor jasa keuangan. Pengalaman Desa Wlahar Wetan, pendirian LKM tidak terlalu rumit dan tidak memerlukan modal yang terlampau besar. Sementara itu di sisi lain, keberadaannya bisa mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat Desa. 

Sarana gedung operasional Badan Kredit Desa (BKD) Wlahar Wetan, awal 2016, yang saat ini 2018 sedang persiapan renovasi menjadi kantor pusat BPR BKD Banyumas.

Pemerintah Desa Wlahar Wetan sudah sejak lama melakukan pengelolaan dana masyarakat untuk usaha simpan pinjam melalui lembaga Badan Kredit Desa (BKD). Dari hasil pengelolaan dan keuntungan tahunan, dana disalurkan masuk ke anggaran desa pada Pendapatan Asli Desa (PAD). Pengelolaan dana Badan Kredit Desa (BKD) dilaporkan setiap satu tahun sekali melalui laporan pertanggung jawaban setiap bulan Januari. Laporan pertanggung jawaban penggunaan dana diberikan kepada Kepala Desa dan masyarakat. Hal-hal yang perlu dilaporkan diantaranya adalah laporan jumlah dana yang ada saat ini, penggunaannya selama satu tahun, dan kendala-kenadala yang dihadapi saat mengelola BKD.

Pengembangan dana tersebut memberikan kontribusi ke desa dalam hal pemberdayaan ekonomi usaha masyarakat seperti untuk penambahan modal usaha kecil warga desa, para petani dan profesi lainnya. Prosedur peminjaman dikelola oleh lembaga keuangan ini sangatlah membantu, sebagai masyarakat Desa Wlahar Wetan yang notabene pemilik lembaga keuangan desa ini diberikan kemudahan tanpa agunan dengan nilai dibawah peminjaman 10 juta. Dana tersebut diperuntukan bagi masyarakat yang tingkat ekonominya lemah dan memiliki keinginan untuk berusaha. Struktur masyarakat yang banyak merasakan manfaat prosedur tersebut yaitu, petani, pedagang kecil, dan peternak. Pemberian kredit kepada usaha kecil diharapkan mampu meningkatkan produksi dan pendapatan para pengusaha kecil di desa kedepannya. Di sini, kelangkaan modal ini bisa diputus agar tidak berulang-ulang. Siklus mata rantai kemiskinan masyarakat pedesaan tidak boleh berlanjut. 

BKD Dekat dengan Warga

Dalam implementasinya lembaga keuangan, BKD dianggap lebih efisien dari lembaga keuangan lain karena kedekatannya kepada masyarakat yang dilayani. Kedekatan ini akan mengurangi biaya-biaya transaksi. BKD dalam operasionalnya juga memberikan fasilitas bantuan non-keuangan. Misalnya bantuan untuk membuat rencana usaha, pencatatan dan pembukuan keuangan kelompok.

Di satu sisi BKD memiliki keunggulan yang relatif tidak dimiliki oleh bank umum, yaitu: lokasinya yang dapat dijangkau nasabah pengusaha kecil dan mikro, memiliki fleksibilitas atau keluwesan dalam melakukan transaksi dengan nasabah yang oleh masyarakat dianggap tidak bankable. Lebih memahami budaya masyarakat setempat karena keberadaannya secara psikologis bersifat  kekeluargaan antara pengelola BKD dengan anggotanya.

Bagi usaha kecil di pedesaan, yang terpenting bukan hanya bunga pinjaman yang rendah, tetapi akses ke lembaga keuangan yang dapat memberikan pinjaman tanpa agunan dan prosedurnya mudah serta dananya dapat dicairkan tepat waktu dan tepat jumlah. Pinjaman dana itu pada umumnya dibutuhkan untuk tambahan modal kerja. Masyarakat desa setuju dengan sistem agunan pada lembaga keuangan mikro pedesaan Jasa intermediasi lembaga keuangan mikro pedesaan dirasakan membantu. Selain itu, penduduk yang menjadi nasabah, baik untuk menabung dan meminjam di lembaga keuangan mikro bisa menunjukkan peran serta dalam mewujudkan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Lembaga Keuangan Mikro seperti BPR seperti BKD Wlahar Wetan ini sejatinya bertugas dan berfungsi sebagai lembaga keuangan yang mendekatkan permodalan dengan sistem perkreditan yang mudah dan terarah. Juga untuk menghindarkan masyarakat pedesaan dari perangkap rentenir yang marak beroperasi di pedesaan. Jika lebih banyak lembaga keuangan yang seperti ini, di dukung dan berjalan, maka dengan sendirinya lembaga keuangan mikro telah menciptakan pemerataan dalam kesempatan berusaha bagi golongan ekonomi lemah serta memberikan pelayanan kepada masyarakat pedesaan dengan menyediakan modal melalui sistem perkreditan yang diarahkan pada peningkatan kegiatan ekonomi produktif.

Dituntut Lebih Digital

Sejalan dengan perkembangan perbankan dewasa ini, di Desa Wlahar Wetan secara umum kegiatan usaha serta peranan perbankan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan dan sangat berarti. Antara lain tercermin dari peningkatan volume usaha, penghimpunan serta penyaluran dana masyarakat. Perkembangan tersebut selain meningkatkan perekonomian desa dan daerah kabupaten juga tingkat kepercayaan masyarakat semakin bertambah. Sehingga peluang perkembangan pertumbuhan perekonomian dan perbankan pada tahun–tahun yang akan datang diperkirakan lebih baik.

Lembaga jasa keuangan di seluruh dunia berada di bawah tekanan yang amat besar untuk senantiasa kompetitif dengan menambah layanan-layanan digital baru, yang berpusat pada konsumen guna memenuhi beragam tuntutan dari pelanggan-pelanggan yang melek teknologi.Sering kali bergulat dengan risiko, kepatuhan terhadap peraturan serta budaya yang berfokus pada proses, lembaga-lembaga jasa keuangan berhadapan dengan beberapa silo data dan infrastruktur TI lawas yang kedaluwarsa, sehingga menghalangi mereka meraih manfaat sepenuhnya dari data pelanggan.

Karena data tetap menjadi mata uang utama di dunia digital saat ini, lembaga jasa keuangan menghadapi tantangan dalam memenuhi tuntutan-tuntutan baru akan keamanan, privasi, dan kualitas data guna memberikan perlindungan data yang lebih baik bagi pelanggan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, lembaga keuangan mikro tingkat desa, yakni Badan Kredit Desa (BKD) yang sudah naik kelas ke level 2 setingkat BPR ini sedang mengadopsi sistem perbankan gunai penopang sebuah hub data informasi keuangan perbankan untuk mempercepat upaya-upaya transformasi yang didorong oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK).

 

Ditulis oleh:
DODIET PRASETYO ADIYANTO
Kepala Desa Wlahar Wetan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
Website Desa: www.wlaharwetan.desa.id

Berikan Pendapat Anda