Editorial : Strategi Budaya Desa

Semua orang merindukan desa. Kehidupan yang selalu digambarkan tenang, alam yang menyenangkan, makanan yang penuh cita rasa, kopinya mantab, dan persaudaraan yang santun. Orang-orangnya ramah dan damai.

Apakah itu nyata?

Tentu saja begitu adanya.

Tapi, kemiskinan sulit disembunyikan. Kegembiraan kadang hanya ditemukan di rumah-rumah penduduk tidak miskin. Sebaliknya, kesulitan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, membuat penduduk miskin maju mundur untuk terlibat aktif dalam pembangunan desa

Dan memang banyak terjadi. Pembangunan justru meninggalkan orang miskin, meski klaim tindakannya dengan atas nama orang miskin.

Pembangunan desa haruslah melibatkan kegembiraan semua penduduknya, kaya maupun miskin, laki-laki dan perempuan. Pembangunan itu seharusnya menjadi ruang publik yang memperkuat daya, memberi manfaat dan wahana ekspresi dari semua orang yang tinggal di wilayah desa. Dengan begitu, pembangunan desa sudah seharusnya pula bersandar pada strategi budaya desa.

Memajukan desa bukanlah urusan mudah. Upaya memajukan desa dihadapkan pada tekanan politik. Terus menguat sebagai hambatan struktural. Kegelisahan mulai dirasakan di tingkat desa.

Misalnya, ada pernyataan spontan: kembalikan Kepala Desa pada rakyat desa!

Hai, ada apa?

Sejak gemuruh pembangunan desa dengan dukungan dana desa, Kepala Desa lebih mewujud sebagai aparatur. Kepemimpinan budayanya lenyap pelan-pelan. Berganti menjadi teknokrat, yang punya kesibukan khas administratif. Urusan pembangunan desa dengan segenap prosedur perencanaan dan penganggarannya penuh dengan tindakan administrasi. Hingga soal musyawarah desa pun menjadi wahana administratif.

Begitu juga dengan tarikan ekonomi global. Hampir semua tindakan ekonomi desa ditarik pada skala ekonomi besar. Kerja ekonomi yang berkarakter lokal dianggap tidak bisa berkontribusi pada pemajuan ekonomi, dan karenanya ditinggal. Urusan budaya modern disajikan sebagai pengganti sah ruang publik desa. Dana Desa digelisahkan dengan julukan semenisasi desa.

Apa yang salah?

Pengakuan atas hak asal usul desa, hak budaya desa, masih setengah hati. Secara norma diakui, tapi dalam praktik tidak diadvokasi.

Desa akan mati jika budaya khas desanya diakhiri. Banyak fakta, desa melesat maju dengan keteguhannya menjalankan strategi budaya desa. Festival-festival desa dengan segala macam bentuknya adalah suara desa atas kepentingan hak budayanya. Kemajuan desa secara ekonomi tidak banyak arti jika lepas dari ikatan budayanya. Karena dengan cara yang demikian itu berarti desa berkehendak meninggalkan rakyatnya. Maka, segerakan perumusan strategi budaya desa. Majukan desa lekat dengan potensi budayanya. Desa adalah ruang hidup budaya penduduknya.

Berikan Pendapat Anda