Inovasi Desa

Festival Desa, kemajuan pembangunan Desa selalu dirayakan. Berbagai jenis (festival) diselenggarakan. Dengan cara cerdas, warga diundang terlibat. Pembangunan Desa menjadi arena kebersamaan dan sekaligus kerja budaya. Tapi intinya bukan soal keramaian itu. Prakarsa masyarakat memperoleh tempat dan makna. Dukungan pelaksanaan Kewenangan Desa dan anggaran Desa yang dimiliki, prakarsa masyarakat terus berupaya menjangkau kesejahteraan warga bersama. Empati, didayagunakannya nilai dan potensi setempat. Kerja budaya yang menguatkan proses dan atau menghasilkan produk baru, serta berhubungan langsung dengan kemajuan dan kesejahteraan warga itulah yang bisa disebut Inovasi Desa. 

Inovasi Desa mudah ditemui dari keberhasilan Desa mengembangkan potensinya. Desa yang tak dikenal, sepi bisa berubah ramai, menjadi lokasi kunjungan wisata. Wisata alam lekat sebagai kecenderungan utama pembangunan Desa dan kelembagaan ekonominya. Terlebih banyak program pusat yang mendukung pengembangan Desa Wisata. Sebuah organisasi nirlaba, Institut Mosintuwu membangun konsep pemberdayaan masyarakat dari pengalaman dan pengetahuan mama-mama di Poso.  Institut Mosintuwu mengawal program dan kegiatan Sekolah Perempuan yang mampu mendorong mama-mama di Desa Salukaia membuat Pasar Desa sendiri, atau mendorong diproduksinya kopi Kojo di Desa Baricea dan Desa Panjo. Institut Mosintuwu berkedudukan di Kabupaten Poso, sebagai organisasi akar rumput yang dikembangkan oleh para survivor konflik Poso. Tidak hanya berkontribusi menangani konflik, tetapi juga membangun masa depan Poso. 

 

Sumber foto: TAPP P3MD & PID Provinsi NTT

 

Sekolah Perempuan juga dirintis dan dibangun Institut Kapal Perempuan di Pulau Kabupaten Pangkep. Saat ini, Sekolah Perempuan Desa juga dikembangkan di banyak wilayah, seperti di NTT dan NTB. Sekolah-sekolah perempuan, baik yang dikembangkan oleh Institut Monsintuwu, Institut Kapal Perempuan, maupun organisasi nirlaba yang lain, sesungguhnya berkehendak menangani kemiskinan. Dalam situasi penuh diskriminasi, kemiskinan bisa sangat merugikan kehidupan perempuan. Perampasan daya, yang bisa disebabkan berbagai aspek, termasuk kekerasan dan psikologis akibat konflik, diatasi dengan cara-cara yang kritis dan memberdayakan. Mereka meyakinkan semua pihak, terutama pemerintah untuk menjalankan proses pemberdayaan masyarakat dengan pengetahuan dan pengalaman perempuan. 

Jadi, inovasi Desa sesungguhnya kaya nuansa. Dari berbagai praktik baik pembangunan Desa, kita bisa belajar bagaimana inovasi Desa dapat dikuatkan.

Pertama, peran Kepala Desa yang mampu menunjukkan empati dan komitmen kuat untuk kesejahteraan warganya. Kepala Desa yang demikian itu, mampu menggerakkan masyarakat dengan menguatkan kesadaran mereka sendiri untuk maju. Tidak hanya lantang berteriak anti korupsi, tetapi juga mampu menjalankan Pemerintahan Desa tanpa korupsi.

Kedua, BPD bersama Kepala Desa terus berupaya mengoptimalkan Kewenangan Desa dan Anggaran Desa yang dimiliki dalam meningkatkan kesejahteraan dan sekaligus, menjaga keamanan sosial dan lingkungan alam Desa. Optimalisasi itu menunjuk kemampuan menyusun dokumen Perencanaan Desa, yang haruslah lekat dengan kultur dan potensi Desa. Pada titik ini, keterkaitan kebijakan Pusat – Desa menjadi isu penting. 

 

Desa Wisata Pujon Kidul, Kabupaten Malang, Jawa Timur | Sumber foto: bastamanography.id

 

Ketiga, metode dan alat bantu (tools) dalam bekerja berdasar pengalaman dan pengetahuan warga itu adalah instrumen kunci inovasi. Keberhasilan inovasi Desa tidak hanya terletak pada hasil produknya, tetapi prosesnya harus memberdayakan warga, melibatkan perubahan kesadaran masyarakat untuk memajukan kualitas hidupnya.  Dalam program Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial (RAPS) misalnya, alat bantu Pemetaan Partisipatif berdayaguna untuk mengaktualkan seluruh potensi Desa dan menguatkan isi Perencanaan Desa. Peran pihak ketiga, yang bersifat sukarela, memiliki kompetensi dan terorganisir, merupakan pendukung utama dari fase ini. Karakter khas dari pihak ketiga ini adalah tidak membebani atau tidak menjadi beban pemerintah dan masyarakat Desa. Contoh lain, dalam urusan penanganan stunting, analisis gender, analisis dampak kebijakan kesehatan, kemampuan legal drafting, bisa menegaskan ketepatan sasaran dan sekaligus, merekomendasikan strategi yang kuat membangun politik Anggaran Desa melawan stunting; 

Keempat, proses dari hulu Sampai hilir benar-benar menunjukan kedaulatan Desa. Proses produksinya menggunakan teknologi yang akrab dengan pengetahuan, pengalaman dan budaya masyarakat, mampu menghasilkan nilai tambah dan tabungan warga. Distribusi produknya menempatkan organisasi ekonomi masyarakat dan Desa sebagai kelembagaan ekonomi utama. Bahkan, pada titik kemajuan ekonomi tertentu, Desa terbukti berhasil membangun kelembagaan keuangan setingkat Bank.

Diskusi reflektif ini memberi peringatan: tidaklah semua tindakan Desa atas nama pembangunan Desa serta merta dipromosikan sebagai Inovasi Desa. Dan inovasi Desa itu tidaklah boleh sekali-kali tergantung pada adanya Dana Desa. Inovasi Desa sejati tumbuh dari nilai-nilai, kekuatan warga dan potensi alamnya, yang semuanya terkonsolidasi untuk menggapai cita-cita kolektif warga Desa.

Berikan Pendapat Anda