Jalur Padat Pantura Dan Kisah Pensiun Dini Petani Demak

Usai sarapan, sekitar pukul 08.30, kami berangkat menuju lokasi penelitian. Bila ditempuh dalam kondisi lancar tak mencapai satu jam rute Semarang Tengah ke Sayung, Demak. Hari kedua perjalanan ini kami jalani di jam yang tidak jauh berbeda dengan kemarin. Tetapi kami menempuhnya lebih banyak memakan waktu. Hal ini karena jumlah kendaraan yang melintas jumlahnya terlihat lebih banyak. Iring-iringan mobil tangki mengangkut bahan bakar dari terminal pengisian di Kaligawe menuju timur Kota Semarang sekira 50an truk tangki, hingga memenuhi jalan. Dengan kondisi merayap ini, saya merasa lebih jelas melihat kanan-kiri jalanan pantura. 

Pada saat tujuan kami akan sampai, dan kendaraan yang kami gunakan semakin lambat. Memasuki tugu selamat datang kota wali, dari kendaraan kami liat bangunan pabrik mendominasi di sisi kanan, sedangkan di sisi kiri permukiman lebih mendominasi. 

Jam sepuluh kurang beberapa menit, kami sampai di kantor desa Batu. Kantor kepala desa lokasinya sebelah kiri dari jalan Semarang menuju Demak, dan antara jalan raya dan kantor desa terdapat sungai yang lebarnya kurang lebih 10 meteran. 

Di kantor desa bertemu dengan carik desa Mislikhan. Kami bercerita tentang persoalan desanya. Di antara ceritanya tentang desa di Batu dan sekitarnya adalah rob. Air pasang-surut dari laut ini sudah menjadi persoalan warga desanya sejak lama. Dan beberapa tahun ini, rob menggenangi lahan-lahan pertanian warga. Di tempat lain, petani senior yang lahir tahun 1941 dari desa ini mengatakan bahwa ia telah lima tahun ini tidak menanam padi. Mbah Min mengatakan, “Sawahnya dan sawah milik tetangganya tidak bisa dijadikan lahan penghidupan keluarga. Sebelumnya, para petani mengandalkan sawah sebagai  penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga”. Cerita matinya sawah, hingga petani terpaksa pensiun juga diceritakan oleh warga yang saya temui di masjid desa yang berwarna hijau itu. 

Dan perjalananan Semarang – Demak kami lakoni sampai beberapa hari. Situasi jalan tak selalu sama. Namun dari beberapa berhenti menemui warga, saya mendapatkan tambahan cerita mengapa petani pensiun. Penyebab lainnya, dibelinya sawah oleh perusahaan. Cerita pembelian lahan untuk pabrik di Demak yang berbatasan dengan Kota Semarang mulai marak akhir 1980an, dan sampai sekarang. Selain beralih fungsi lahan sawah menjadi pabrik, lahan beralih fungsi juga menjadi jalan, dan permukiman. Cerita pensiun petani lain namun tak banyak adalah dijualnya lahan pertanian mereka kepada perorangan, beberapa belum beralih fungsi. 

Pada suatu kesempatan, kami menyantap makanan di sekitar desa. Dan saat kami bertanya kepada pedagang, apakah nasi berasal dari padi di sawah desa ini. Penjual menjawab, padinya tidak berasal dari Demak. Ia membelinya di pasar. Saya agak kecewa mendengar jawaban pedagang tersebut, karena tak menyantap nasi dari padi di Demak. Padahal menurut petani yang saya wawancarai, padi di desanya sangat enak. *djimo

Berikan Pendapat Anda