Mencari Sumber Pengetahuan, Menemui Keluarga Penenun

Di setiap berada di lokasi penelitian, saya (biasanya bersama tim) selalu menyempatkan mendatangi pemilik pengetahuan tradisional, untuk mengapresiasi. Kata “tradisional” saya gunakan untuk menjelaskan pengetahuan ini sudah ada sejak lama dan didapatkan secara turun-temurun, bukan untuk membedakan dengan modern (maju). Dan saat di Buton Selatan, saya mendapat informasi bahwa salah satu pemelihara pengetahuan tradisional terkait pakaian ada di desa Lawela, Batuaga.

Saat menuju desa Lawela, dari sebuah kantor dinas yang letaknya di belakang pasar, saya membayangkan nanti akan menemui kios sebagai display hasil kreasi warga setempat. Perjalanan yang kami tempuh tak lebih 30 menit dan sesampai di lokasi yang diinfokan, bayangan saya tadi buyar.

Melewati beberapa petunjuk yang kami miliki, kendaraan yang kami tumpangi berhenti. Kami ragu, karena tak ada tanda sebuah kios pengrajin pakaian tradisional ini. Karena memang harus bertemu hasil karya dari benang ini, kami bertanya pada penunggu warung kelontong plus sayur-mayur. Teman kami turun. Setelah berbincang sebentar dengan pemilik warung, dengan sumringah ia meminta kami ikut turun. Kami pun turun dari kendaraan, dan duduk di gazebo (mungkin istilah setempat “beruga”) samping warung kelontongnya.

Pembicaraan teman kami dengan ibu tadi salah satunya meminta ditunjukkan hasil karya tangan untuk pakaian. Tak lama kami duduk, ibu yang diajak bicara teman kami turun dari rumah panggung dengan membawa dua potong sarung/kain. Sambil mempersilahkan kami melihat sarung tenun, ibu tadi menjelaskan ini kain karya ibunya. Kami melihat tak lama, dan menanyakan apa ada karya tenun yang lain. Ibu berkaos putih tersebut tanpa ragu dengan sarung tenunnya dipegang orang asing (kami), beranjak menuju rumah sebelah warung. Kami menunggu, dan berharap ada yang kami sukai.

Turun dari rumah panggungnya, ia membawa sekitar 10 potong kain hasil karyanya. Saya melihat paling atas tumpukan kainnya. Kain warna merah marun dengan variasi warna kuning terlihat begitu menonjol dari lainnya. Sementara kain lainnya, berwarna lebih cerah dan mencolok. Belum sampai diletakkan di tempat duduk, yang seolah berfungsi sebagai etalasenya, kami sudah menyambutnya. Kain teratas saya pegang, kemudian saya letakkan di tempat duduk setelah si ibu bercerita bahwa kain berwarna merah marun dengan variasi warna kuning pisang itu karya terbaiknya dan tak ada niatan dipindahtangankan.

Saya memilih yang lain, meski masih menginginkan pilihan pertama tadi.

Di sela-sela transaksi, kami membuat sebuah penawaran, bagaimana bila kain yang kami minati itu ibu buat lagi. Tapi si ibu tak bergeming dengan rengekan kami, dan menahan kain karya tangannya yang dikerjakan sepekan lebih itu. Seolah iba melihat kami merengek, pembuat dua kain yang ditunjuki kami di awal tadi bersedia membuatkan kain yang kami minati. Ibu yang tak tega dengan rengekan kami adalah orang tua dari pembuat kain warna merah maroon. Dari kesediaan ibu berkaos kuning itu, yang mungkin usianya kisaran menjelang 70-an, kami malah mengetahui proses awal menenun. Selain mengetahui proses awal menenun, dari mulai membuat pola bentuk kain, kami juga tahu darimana pengetahuan menenun serta nama ibu pemilik warung, yang kemudian kami ketahui juga sebagai penenun kain/ sarung di Buton Selatan.

Karena memesan kain, kami perlu tahu nama si pengrajin ini. Saat kami tanya, sepertinya ibu-ibu ini malah kebingungan dengan namanya. Dan kemudian ia menyebutkan namanya, Mama Ida (dan ternyata “Ida” adalah nama anaknya).

 Saat sedang membuat pola, kami tak henti merayu Mama Ida untuk merelakan kain kesayangannya kami bawa. Dengan bantuan ibu kandung Mama Ida yang kedua tangannya sibuk membalutkan kain di seutas bambu guna sebuah pola tenun, akhirnya Mama Ida bersedia karya terbaiknya untuk saat ini kami bawa. Apalagi setelah ibu kandungnya, yang sekaligus gurunya dalam kerajinan tenun, membuat pola yang sama persis. Mama Ida belajar menenun dari ibunya, sedang ibunya mendapatkan pengetahuan dari ibunya juga. Pengetahuan tradisional di desa Lawela saat ini yang mempertahankan tak banyak. Mama Ida menunjuki, di sekitar rumahnya yang berada di pinggir jalan hanya ada dua rumah saja yang masih rajin menenun. Menurutnya, dari dulu kerajinan ini hanya untuk memenuhi kebutuhan di lingkungannya sendiri, baik guna keperluan sehari-hari maupun acara adat. Dan bila ada orang di luar lingkungannya membeli, maka akan dibuatkan dengan persetujuan harga dan pola. Dengan demikian, mereka tidak menyetok untuk pembeli, tapi menyediakan untuk pemesan. Jadi, lumrah bila tidak ada etalase, sebagai display yang menampilkan karya-karya mereka yang dapat langsung diapresiasi. Di rumahnya, yang ada adalah play, tempat karya dimainkan dan sembari menunggu diapresiasi selanjutnya. Play yang mereka buat bisa jadi tak selalu sama, dan kalau toh ada yang sama itu datangnya dari pemesan (seperti kami).

Untuk pola tenun, mungkin jarang sekali ada pengulangan. Sedangkan pengulangan karya ada didasari pada corak untuk jenis kelamin pemesan. Untuk laki-laki, coraknya kotak-kotak; dan untuk perempuan, coraknya garis lurus.

Bagi saya, keluarga yang saya temui ini adalah pemilik pengetahuan tradisional yang belum terkomersialisasi apalagi terkomodifikasi. Mereka memiliki dan menjaga pengetahuan masih bebas, kapan dan kepada siapa membagikan masih bergantung pada diri sendiri dan lingkungan. Namun, pemilik pengetahuan tradisional ini berpotensi tidak independen. Salah satunya dari pihak luar seperti kami, yang agak memaksa membuat pengulangan di waktu dan jumlah yang sesuai selera kami. (djimo sastro wijono)

Berikan Pendapat Anda