Meniti Jalan Menuju Pasar Desa

Tidak semua desa memiliki Pasar desa. Tetapi tidak banyak Pasar desa dilengkapi infrastruktur pasar yang layak. Sering didapati, Pasar Desa dengan bangunan fisik yang belum layak. Limbah sampahnya kurang diurus, menumpuk. Saluran air dan drainasenya buruk. Dalam konteks membangun Desa saat ini, jadi persoalannya juga, kemampuan kontribusi Pasar desa terhadap Pendapatan Asli Desa (PAD).

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2007, Pasar desa adalah pasar tradisional yang berkedudukan dan berlokasi di desa, menempati lahan milik pemerintah desa (lahan kas desa)  maupun masyarakat (wakaf), dikelola dan dikembangkan oleh Pemerintah Desa dan masyarakat baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dalam pembiayaannya. Pasar desa tumbuh sebagai bagian dari sektor perdagangan. Dari perspektif Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (UU Desa), Pasar desa merupakan aset desa yang selayaknya tunduk pada pengaturan pengelolaan aset (Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016). Sebagai aset tentu bangunan Pasar desa miliki desa itu harus dilengkapi dengan bukti status kepemilikan dan ditatausahakan secara tertib (Pasal 76 Ayat (3), (4), (5), dan (6)).

Menurut Aris Ahmad R, pegiat Desa, tingkat kemajuan perdagangan desa menentukan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Situasi transaksi perdagangan berbagai komoditas hasil produksi perdesaan mencerminkan potensi putaran uang di desa.  Nilai tambah dari hasil perdagangan komoditas pertanian atau sektor perdesaan yang diterima masyarakat desa bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat desa seperti pendidikan dan kesehatan. Salah satu pendukung kemajuan perdagangan desa adalah keberadaan pasar desa. Sehubungan dengan itu hadirnya pasar desa yang representatif sangat dibutuhkan. Kelahiran UU Desa yang memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Desa memberikan peluang untuk meningkatkan nilai tambah pasar desa dan lebih maksimal dirasakan oleh Desa yang ujungnya akan dirasakan oleh masyarakat.

Bagimana Pasar desa terbentuk dalam situasi keterbatasan Desa. Pada kenyataannya, hampir semua Desa membutuhkan Pasar desa. Warga desa merindukan Pasar desa. Pasar yang menyediakan bahan kebutuhan pokok sehari-hari yang kian waktu kian terasa dibutuhkan. Sementara itu penyediaan lahan tentu tak dapat diwujudkan dalam waktu dekat, mengingat tingginya harga tanah.

Mengingat keterbatasan anggaran pemerintah untuk pengadaan lahan, sesungguhnya dapat saja lahan pasar digali dari anggaran Dana Desa atau bahkan swadaya murni masyarakat. Tetapi karena begitu banyaknya beban masyarakat dalam berswadaya akhir-akhir ini menyebabkan gagasan untuk mengadakan lahan pasar desa seakan masih terpendam dalam rencana pembangunan pemerintah dan masyarakat desa. Bayangkan saja, di masing-masing desa serta dusun sedang dilaksanakan pembangunan atau rehabilitasi secara total rumah-rumah ibadah berukuran relatif besar yang sudah pasti memerlukan biaya di kisaran ratusan juta rupiah bahkan miliaran rupiah. Belum lagi tuntutan swadaya dari perluasan tanah kuburan, penataan panti asuhan dan lain sebagainya. Singkat kata, menggali swadaya untuk lahan pasar saat ini masih memerlukan pertimbangan karena dirasakan sangat berat oleh masyarakat. Bahkan perluasan tanah untuk lapangan umum pun terkendala anggaran dan swadaya tersebut.

Sementara itu, menunda aktifitas pasar desa dengan memanfaatkan pasar yang sudah ada di desa lain juga tidak sepenuhnya efektif, mengingat kemampuan masyarakat dalam menjangkau pasar yang lebih jauh masih sangat rendah dan tingkat kebutuhan mendesak semakin tinggi. Munculnya pasar-pasar tradisional yang bersifat mingguan di Desa-Desa rasanya akan sulit dihindari, mengingat alasan-alasan tersebut diatas. Membiarkan keberadaannya sudah pasti menimbulkan efek positif dan negatif secara bersamaan, namun melarangnya juga memiliki efek positif dan negatif dengan kadar yang tidak jauh berbeda, bahkan bisa lebih besar dan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat kelas bawah.

Pasar-pasar dadakan yang kini menjadi rutinitas di setiap pekan semakin “populer” dan kian dinantikan. Transaksi jual beli barang kebutuhan setiap pekannya terasa sangat aktif dan dapat dilihat bahwa keberadaannya pun sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, dan tidak mengganggu aktifitas pasar-pasar yang sudah ada. Selain karena lokasi yang biasanya berada di sepanjang pinggir jalan Desa yang tentunya mempunya dampak akan mempersempit alur transportasi, semuanya berjalan apa adanya dan masyarakat menyambutnya dengan gembira.

Terlepas dari adanya pro dan kontra yang mungkin timbul, sesungguhnya aktifitas itu sebagai penggugah dan pembuka mata semua pihak untuk bersama-sama memikirkan langkah-langkah konkrit dan tepat guna mewujudkan pasar desa. Pasar mingguan ini dapat saja dianggap sebagai salah satu upaya meniti jalan menuju pasar desa yang lebih baik, lebih besar dan tentu saja lebih menjanjikan. Seiring dengan semakin terfokusnya pembangunan di pedesaan, tentunya kalangan pemerintah desa akan berharap ada program-program yang secara langsung dapat menstimulan keberadaan Pasar desa.

Berikan Pendapat Anda