Pemetaan Potensi Desa Wisata

Wisata Desa banyak berkontribusi pada kemajuan status Desa. Begitulah yang diumumkan BPS dalam berita statistik hasil sensus Potensi Desa 2018 dan penilaian status Desa. Dan memang benar, Desa Wisata merupakan kecenderungan besar dari pembangunan Desa saat ini.

Pengelolaan wisata Desa dirasa mampu memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi Desa. Dengan anugrah bentang alam yang indah dan keberagaman budaya, Desa memiliki potensi besar untuk menjadikan pariwisata sebagai prioritas pembangunan. Beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh Desa dalam mengembangkan sektor ini adalah penyebarluasan informasi destinasi wisata Desa. Sekaligus meningkatkan aksesibilitas sarana transportasi menuju lokasi. Hal ini sudah dibuktikan melalui kisah sukses Desa yang berhasil mengembangkan wisatanya.

Salah satu konsep yang dapat dijadikan acuan oleh Desa dalam pengembangan sektor wisata adalah Sustainable Development. Melalui penggabungan dua konsep pembangunan wisata Desa dan pembangunan berkelanjutan dapat memunculkan satu konsep baru yakni pembangunan Desa wisata berkelanjutan. Adapun berikut merupakan enam tahap implementasi dari konsep pembangunan Desa wisata berkelanjutan:

Tahap pertama, yaitu tahapan analisa potensi.

Tahapan ini meliputi pemetaan potensi sumber daya alam dan komoditas unggulan yang dimiliki oleh Desa. Meliputi pemetaan aktor yang ada di masyarakat dan kondisi sosiologis Desa. Proses pemetaan potensi ini merupakan langkah awal yang mempunyai peran dasar dan kunci suksesnya pembentukan Desa wisata. Terkadang, tidak semua anggota masyarakat menyadari potensi yang ada di desanya. Misalnya, luas wilayah Desa yang tidak mungkin setiap orang memahami seluruhnya. Padahal luasan ini selalu mengalami perkembangan sebagai akibat dari proses pembangunan yang merubah kondisi potensi luasan yang ada. Selain itu, soal kondisi pertambahan populasi penduduk, bonus demografi dan perkembangan teknologi. Semuanya, mempengaruhi perubahan potensi yang ada di Desa.

Tahap kedua adalah proses konsolidasi aktor yang ada di Desa.

Pemahaman persepsi antar aktor Desa mengenai pembangunan Desa wisata sangat penting untuk diidentifikasi. Dalam tahap ini para aktor Desa, seperti: pemerintah, ketua organisasi tingkat Desa (Kelompok Tani, PKK, Karang Taruna, dan lain-lain.), pengusaha, petani/nelayan, tokoh budaya, tokoh agama, dan lain-lain, harus diajak musyawarah mengenai konsep dan visi misi Desa wisata yang akan dikembangkan. Aktor-aktor di Desa ini harus dapat memahami benar dampak dari pengembangan Desa wisata, baik dampak positif maupun negatifnya. Mereka juga harus sadar, bahwa mewujudkan Desa wisata memerlukan proses yang tidak instan dan mudah. Diperlukan proses yang cukup panjang dan kedewasaan dalam penyelesaian masalah yang timbul selama proses menuju Desa wisata.

Tahap Ketiga, adalah pembentukan organisasi pendukung pengembangan Desa wisata.

Di lapangan hanya dibentuk Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis. Organisasi ini sangat penting untuk memulai pengembangan Desa wisata. Pokdarwis yang dibentuk dan direstui oleh pemerintah Desa nantinya akan bertugas sebagai penggerak dalam pengembangan Desa wisata. Juga bertugas untuk menjalin relasi dengan kelompok sadar wisata di Desa atau wilayah lain.

Pokdarwis merupakan organisasi di tingkat Desa yang diakui oleh pemerintah dan harus dengan surat ketetapan dari dinas terkait, yakni dinas pariwisata kabupaten. Sehingga diharapkan organisasi ini yang akan menjaga relasi dengan pihak pemerintah kabupaten. Beberapa kegiatan terkadang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten. Mulai dari berbagai macam pelatihan yang terkait dengan wisata, sampai pada bantuan berupa pendanaan event. Tugas Pokdarwis lainnya adalah ikut mensosilisasikan konsep Desa wisata kepada masyarakat yang ada di Desa. Dan tentunya, tugas utama dari organisasi ini adalah menjadi penggerak dan pelaksana utama, Desa wisata.

Tahap Keempat, sosialisasi kepada masyarakat Desa dan pengembangan destinasi wisata.

Pada tahap ini, tugas para tokoh masyarakat, pemuda dan pemerintah Desa adalah mensosialisasikan konsep Desa wisata kepada masyarakat Desa. Berdasar kesadaran budayanya, masyarakat diharapkan mengerti benar dan memahami dampak dari pengembangan Desa wisata. Tahap ini akan membutuhkan proses yang cukup kompleks dan membutuhkan kesabaran. Tidak akan semua masyarakat memahami maksud dan tujuan pengembangan Desa wisata. Penolakan sampai dengan cibiran beberapa anggota masyarakat akan ditemukan dalam proses ini. Diperlukan kekompakan dari pemerintah Desa dan penggerak wisata.

Tahap Kelima, adalah tahap dimana proses promosi Desa wisata ke masyarakat luas.

Tahap ini membutuhkan kemampuan anak-anak muda yang ada di Desa untuk menggunakan teknologi informasi sebagai media pemasaran. Kegiatan berupa event atau acara sudah mulai diinisiasi oleh Desa untuk mengundang perhatian dan mengenalkan kepada masyarakat luas. Di tahap ini, pengelola Desa wisata akan mulai merasakan langsung dampak dari Desa wisata. Tamu dari luar Desa akan mulai datang, akan mulai berinteraksi langsung dengan masyarakat luas. Aliran uang akan mulai masuk ke Desa. Masyarakat akan mulai merasakan dampak langsung datangnya tamu dari luar Desa. Selanjutnya, pemerintah Desa dan pengelola Desa wisata sudah harus mulai berusaha mendistribusikan pemerataan dampak dari kedatangan tamu dari luar. Hal ini dikarenakan datangnya tamu dari luar juga memberikan resiko terhadap perubahan sosial yang terjadi di Desa.

Tahap Keenam, adalah penguatan koordinasi antara pengelola wisata dan pemerintah Desa.

Proses inovasi harus terus tumbuh dalam pengembangan destinasi wisata dengan tidak meninggalkan destinasi yang sudah ada. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia selaku pelaku wisata di Desa juga harus ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukan dengan selalu berkoordinasi dengan dinas terkait dan mengikuti traning secara mandiri. Ketika Desa wisata sudah mulai menghasilkan dan mendatangkan tamu, Desa akan memasuki fase kritis baru. Perubahan dari sumber daya yang tidak menghasilkan, kemudian menghasilkan akan menimbulakan masalah baru. Mulai dari keinginan untuk mengelola obyek wisata secara sendiri-sendiri, pembagian hasil, sampai pada konflik wilayah akan muncul. Pada tahap inilah diperlukan kesadaran semua pihak yang terlibat dalam pengembangan Desa wisata bahwa pembangunan wisata Desa bertujuan untuk kesejahteraan bersama masyarakat Desa.

Berikan Pendapat Anda