Penanggulangan Risiko Bencana Berbasis Kearifan Lokal

Munculnya gagasan “kerentanan” (vulnerability) adalah untuk mengakomodasi pranata maupun unit sosial sebagai bagian dari kajian bencana. Khususnya terhadap eksistensi peradaban dan kehidupan manusia yang berada di dunia. Bencana berikut faktor pemicu maupun implikasinya terhadap kehidupan manusia perlu untuk direduksi maupun terdeteksi sedini mungkin, sehingga dari situlah kemudian menciptakan skema manajemen bencana. Relasi kekuasaan terhadap penanggulangan bencana adalah melihat bagaimana Pemerintah Daerah dalam menanggulangi dampak destruktif bencana baik dari segi sosial maupun ekologis dan konstruksi informasi publik yang dihadirkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah terhadap bencana dan dampaknya kepada masyarakat.

Penguatan kelembagaan, baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta merupakan faktor kunci dalam upaya mitigasi bencana. Penguatan kelembagaan dalam bentuk dalam kesiapsiagaan, sistem peringatan dini, tindakan gawat darurat, manajemen barak dan evakuasi bencana bertujuan mewujudkan masyarakat yang berdaya sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Pengetahuan tentang kesiapsiagaan yang merupkan serangkaian kegiatan pun harus diketahui oleh warga masyarakat untuk menyiapkan diri mengantisipasi situasi bencana secara cepat dan tepat guna.

Dalam teori Benyamin Blum menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dalam teori tersebut dijelaskan pula bahwa sikap/perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang mempengaruhi individu atau masyarakat. Sikap merupakan faktor penentu perilaku, karena sikap berhubungan dengan persepsi, kepribadian, dan motivasi. Sikap diartikan sebagai kesiapsiagaan mental, yang dipelajari dan diorganisasi melalui pengalaman , dan mempunyai pengaruh tertentu atas cara tanggap seseorang terhadap orang lain, objek, dan situasi yang berhubungan dengannya (Gibson, 1998). Sikap selalu berkaitan dengan komponen emosional, komponen kognitif (persepsi, pendapat, keyakinan) dan perilaku. Menurut Sukidjo sikap adalah keadaan mental dan saraf dan kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamis atau terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya. Sikap merupakan penilaian seseorang terhadap stimulus atau obyek. Setelah orang mengetahui stimulus atau obyek proses selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus atau obyek tersebut.

Peningkatan kapasitas masyarakat dalam menanggulangi risiko bencana urgent dilakukan, di antaranya dengan melakukan pelatihan penanggulangan bencana atau dengan simulasi-simulasi yang dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dalam menanggulangi risiko bencana.Upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menanggulangi risiko bencana ini diperlukan penyelenggaraan program pengurangan risiko bencana di Desa. Kegiatan pelatihan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat (Community Managed Disaster Risk Reduction) ini dilakukan dalam upaya meningkatkan keberdayaan masyarakat Desa kegiatan pelatihan ini harus betul–betul dipahami karena pentingnya hal tersebut.

Pada sisi yang lain masyarakat desa dan pemerintah desa belum memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam bidang PRB (Penanggulangan Risiko Bencana). Untuk perempuan juga belum banyak keterlibatannya dalam perencanaan dan pengambilan kebijakan strategis penanganan kedaruratan dan Penanggulangan risiko Bencana. Meskipun demikian di Desa terdapat potensi yang dapat dikembangkan dalam hal-hal yang menyangkut penanggulangan risiko bencana hal ini bisa dilihat secara tradisional masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan kedaruratan meskipun masih sangat terbatas.

Di desa cukup banyak organisasi–organisasi sosial dan keagamaan yang sekarang belum terorganisir yang dapat menjadi kekuatan dalam gerakan penanggulangan risiko bencana PRB. Budaya gotong royong, toleransi dan semangat keswadayaan berjalan baik di desa dan hal ini menjadi satu kekuatan penting dalam penanganan bencana. Dalam meningkatkan kapasitas Penanggulangan risiko Bencana masyarakat Desa yang terdampak bencana, langkah yang harus dilakukan adalah pertama adalah membangun pemahaman masyarakat di Desa mengenai ancaman, kerentanan, kapasitas dan potensi risiko tanah longsor dan tanah amblas, banjir serta faktor-faktor yg mempengaruhi diwilayahnya. Kedua menyiapkan kader-kader lokal yang potensial untuk menggerakan partisipasi masyarakat dalam membangun gerakan mengurangi risiko kebencanaan. Ketiga melakukan pemetaan risiko bencana secara partisipatif. Keempat meningkatan peran dan posisi strategis perempuan dalam kegiatan Penanggulangan risiko Bencana desa. Yang terakhir mengembangkan aksi-aksi inovatif Penanggulangan risiko Bencana Masyarakat desa.

Masyarakat yang sudah mencapai tingkat ketangguhan terhadap bencana akan mampu mempertahankan strukturdan fungsi mereka sampai ke tingkat tertentu bila terdampak bencana. Program Desa tangguh bencana seharusnya  dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip bencana adalah urusan bersama, berbasis pengurangan risiko bencana, pemenuhan hak masyarakat, masyarakat sebagai pelaku utama, partisipatoris, pemanfaatan sumberdaya lokal, inklusif, berlandaskan kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan gender, keberpihakan pada kelompok rentan, transparansi dan akuntabilitas, kemitraan, multi ancaman, otonomi dan desentralisasi pemerintahan, pemaduan dalam pembangunan berkelanjutan dan diiselenggarakan secara lintas sektor.

*disarikan dari berbagai sumber

Berikan Pendapat Anda