Perlindungan Komoditas Kopi Yang Mendunia – Kisah Dari Dampit, Malang

Desa identik dengan hasil pertanian dan perkebunan. Prosentase terbesar penduduk desa bekerja di kedua bidang tersebut. Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, luas lahan pertanian dan perkebunannya mencapai 11 ribu hektar, diantaranya perkebunan kopi.

Perkebunan kopi di Dampit memiliki sejarah yang panjang. Sejak jaman penjajahan Belanda sudah berdiri kebun dan pabrik kopi di wilayah tenggara Kota Malang ini. Penguasaan perkebunan ini juga mengalami pasang surut, mulai dari masyarakat sebagai buruh tani sampai mereka melakukan pengelolaan perkebunan sendiri.

Meskipun begitu, masyarakat yang mengelola perkebunan kopi belum mampu mengubah kesejahteraan hidupnya secara signifikan. Penyebabnya pola pengelolaan perkebunan kopi masih sangat bergantung dengan faktor alam maupun sistem perekonomian yang melingkupi masyarakatnya. Faktor lain adalah keamanan perkebunan kopi dari pencurian.

“Dulu, petani kopi seperti berebut dengan para pencuri. Akibatnya, buah kopi tidak sampai merah sudah cepat-cepat dipanen oleh petani,” ungkap Trisno Sunardi, anggota Badan Permusyawaratan Desa Baturetno Kecamatan Dampit.

Pada tahun 90-an, kegelisahan itu mulai disadari masyarakat di Kecamatan Dampit, terutama di desa Baturetno. Mereka bersepakat untuk menerapkan pola-pola yang tertata. Mereka mulai membangun pola-pola komunal dalam pengelolaan perkebunan kopi. Desa Baturetno menerapkan penjagaan perkebunan kopi secara bergilir. Usaha ini dapat mengurangi pencurian kopi di kebun-kebun penduduk.

Pola Panen

Ketika keamanan perkebunan kopi dapat diatasi, para petani kopi mulai memikirkan peningkatan hasil perkebunannya. Disamping melakukan perawatan dan pemupukan dengan benar, petani kopi desa Baturetno melakukan panen kopi dengan cara petik merah. Cara ini dapat mereka buktikan dengan menghasilkan komoditas kopi yang berkualitas.

“Peningkatan kualitas hasil panen kopi, berdampak pada peningkatan harga. Semula harga kopi berkisar 22 sampai 23 ribu, menjadi 30 ribu per kilogram biji kopi,” Sunardi menjelaskan.

Hasil pola panen petik merah dapat dirasakan oleh petani kopi. Mereka melakukan petik merah biji kopi menjadi kebiasaan meskipun dengan penambahan tenaga.

Desa Melindungi Komoditas Pertanian

Kebiasaan petani kopi di desa Baturetno menjadi perhatian pemerintah desa. Tahun 2016 pemerintah desa Baturetno mengajak masyarakatnya, terutama petani kopi, untuk bermusyawarah dengan tujuan menguatkan perlindungan hasil pertanian kopi. Musyawarah desa itu menghasilkan sebuah peraturan desa yang mengikat seluruh masyarakat desa Baturetno.

Perdes perlindungan komoditas kopi bernomor 06 tahun 2016 tersebut mengatur pengelolaan dan pengaturan keamanannya. Peraturan desa tersebut juga mengikat orang luar desa yang memiliki perkebunan kopi di desa Baturetno.

“Dalam peraturan desa tersebut, diantaranya mengatur perbandingan petik kopi yang diperbolehkan 3 biji merah, 2 biji kuning, dan 1 biji hijau. Pelanggaran ketentuan ini akan diberi sangsi oleh pemerintah desa,” ujar Sutanto, Pendamping Desa Kecamatan Dampit.

Dampak dari perlindungan komoditas kopi di desa Baturetno ini, semakin mendorong untuk meningkatkan kualitas hasil perkebunan kopi. Para petani kopi sudah mulai menjalankan pengelolaan pasca-panen yang tepat, dengan menjalankan metode standar yakni pasca panen honey, semi-washed, maupun full-washed fermentation.

Memetik hikmah perlindungan komoditas kopi di desa Baturetno Kecamatan Dampit, menjadi hal yang niscaya desa-desa hadir untuk melindungi komoditas hasil pertanian lainnya melalui peraturan desa maupun kebijakan pemerintah desa lainnya.*

Berikan Pendapat Anda