Politik Orang-Orang Desa di Tahun Politik

Seorang ibu tua tampak gembira. Berkali-kali mengucap syukur. Dia berhasil swafoto dengan Jokowi, Presiden RI yang juga merupakan Calon Presiden di Pilpres 2019. Bahkan bukan hanya swafoto, dia juga ambil video dari handphone-nya. “Saya senang sekali. Terima kasih ya Allah, sempat foto dan video bersama bapak Jokowi,” ungkap ibu tersebut. Dalam satu pertemuan, ia datang dari Desa bersama bapak dan ibu lainnya. Begitulah salah satu kisah tahun politik yang dijalani orang Desa. Begitu juga yang dilakukan pasangan calon Presiden dan Wakil presiden “lawan tandingnya”. Orang-orang Desa adalah sasaran utama dari strategi kampanye populis kedua pasangan calon yang akan bertanding di Pilpres 2019.

Jadi, bagaimana sesunguhnya orang Desa merespon Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden? Pada 17 April 2019 dijadwalkan pemilihan itu. Bersamaan dengan Pemilihan Calon Legislatif DPR RI, DPD, DPRD Provinsi dan Kabupaten. Menjadi spesial karena besarnya hajatan politik tersebut. Semua pasangan calon bersikap populis. Menyatakan keberpihakannya pada persoalan rakyat kecil, orang-orang Desa. Maka, menemukan jawaban atas pertanyaan di atas menjadi penting.

Jokowi, sang petahana, sangat aktif mendatangi Desa. Bertemu langsung dengan orang-orang Desa. Program-program yang dijalankan pada masa kabinet sekarang menjadi pintu masuk, seperti Dana Desa, Program Keluarga Harapan (PKH), Sertipikasi Tanah, dan Perhutanan Sosial. Masyarakat penerima manfaat menyambutnya gembira. Komitmen itu juga ditunjukkan Jokowi pada orang-orang Desa korban bencana alam. Menemui mereka, dan bahkan tinggal bersama mereka untuk sementara, telah menjadi cara yang membuat orang-orang Desa senang. Begitu juga lawan tandingnya dalam Pilpres nanti. Arena Pasar Rakyat menjadi ruang adu strategi populisme.

Pasar rakyat di kota adalah tempat bertemunya aktivitas ekonomi orang-orang Desa dengan warga kota. Produksi pertanian orang Desa dibawa ke pasar rakyat dan orang kota membelinya. Sementara bagi masyarakat luas, terutama kelompok miskin, pasar rakyat adalah harapan. Di sana ada soal harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Harapan jadi kecemasan jika harga melonjak naik. Pedagang juga butuh kestabilan harga pangan itu. Fasilitas infrastruktur pasar juga jadi fokus perhatian. Di sinilah adu kehebatan strateginya. Bagaimana kemampuan menjaga kestabilan harga pangan dan kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan, infrastruktur pasar bisa dijangkau oleh masyarakat luas, khususnya kelompok miskin. Sang petahana menunjukkan kerja seriusnya di urusan itu. Dan lawan tandingnya persoalkan kelemahan program itu dan sekaligus beri janji perbaikan situasinya. Begitulah, pasar rakyat jadi arena politik di tahun politik yang menuntut dipahami oleh rakyat secara politik. Menarik, pasar rakyat di ajang pertarungan Pilpres 2019.

Bagaimana orang-orang Desa mengikuti dinamika ini?

Status dan karakteristik Desa beragam. Dari Desa sangat tertinggal sampai maju, dari lembah sampai pegunungan, dari pedalaman sampai pinggiran kota. Sebaran lokasinya membagi sebagian besar wilayah Indonesia yang luas. Budaya lokal dan pengalaman kehidupan di Desa tentu sangat berpengaruh pada pilihan politiknya.

Tahun politik saat ini dirasakan cukup panas. Kegelisahan banyak orang karena banyaknya beredar informasi bohong beredar. Data dan informasi mengalir begitu deras melalui, terutama media sosial. Berita bohong dan tidak bohong jadi satu. Seringkali masyarakat kesulitan membaca, mana yang benar, mana yang bohong.

Lalu, bagaimana nasib orang Desa?

Tentu situasinya kurang lebih sama dengan masyarakat luas. Cara pandangnya terhadap pilihan politik nyaris dipaksa dan dibentuk oleh saling silang berita di medsos itu. Dalam perkembangannya, persoalan bukan hanya soal informasi benar dan bohong jadi satu. Tetapi caci maki. Bahkan terasa, begitu kejamnya kata-kata dilontarkan. Situasinya membuat orang-orang Desa tidak merasa nyaman dan aman berpolitik. Hukum yang bekerja atasi masalah hoax setidaknya mengurangi rasa tidak nyaman dan aman tersebut.

Desa-Desa di Jawa, tempat lumbung suara berada, media sosial bekerja efektif di setiap rumah. Bisa dipastikan setiap rumah di Desa-Desa di Jawa ada gadget. Diskusi politik hadir di ruang-ruang publik yang khas ada di Desa, yakni di warung-warung makan atau kopi, di sawah, di tempat rapat RT, atau di tempat berkumpul warga bersama. Sekali lagi, budaya lokal dan pengalaman hidup akan menentukan pilihan politik mereka, warga Desa.

Suara orang-orang Desa benar-benar diperebutkan. Tapi Desa bukanlah tempat kebodohan. Secara historis, Desa sangat terlatih hadapi situasi politik. Keteladanan yang utama, sentuhan tangan dan hati akan menguatkan, dan janji politik akan memicu aksi pilihan politik mereka. Dinamika politik akar rumput tidak bisa dihancurkan oleh kegilaan hoax begitu saja. Siapa yang akan berhasil merebut hati orang-orang Desa nanti pada Pilpres bulan April mendatang?

*Featured image © Kumparan

Berikan Pendapat Anda